LOSING YOU

How are you my love ?
Tears are forming as I look at the sky again
Just by looking, the memories flow
A day without you is so painful, the longing rises

Hujan masih mengukir jejaknya. Awan kelabu masih setia menutupi langit cerah. Seakan enggan menampakkan kecerian mentari yang bersinar menerangi kota. Guyuran air itu terus turun membasahi bumi dan segala kehidupannya. Lagi aku menghela nafas, mendongak menatap awan kelabu tersebut dan berharap hujan segera reda. Namun apa yang terjadi, hujan semakin deras turun seakan menertawakan keadaanku sekarang.

Mengapa Kau menciptakan hujan?

Mengapa Kau membuatku merasakan kesakitan ini lagi, Tuhan?

Jenis kesakitan apa yang ingin Kau berikan kepadaku, Tuhan?

Apakah kesakitan ketika aku kehilangan jantungku, ataukah kesakitan ketika aku kehilangan separuh nafas dan belahan diriku yang lain?

Jika Kau menginginkan aku merasakan kesakitan itu, aku telah merasakannya Tuhan. Nafasku, belahan dari jiwaku telah pergi. Pergi dengan meninggalkan luka yang masih segar hingga sekarang. Buliran bening yang selama ini lebih sering tersimpan di hati, kini luruh seketika. Takdir mempermainkanku.

“Ingin pulang bersamaku Alice?” Sebuah suara mengagetkanku segera aku mengalihkan seluruh fokusku untuk menghapus lelehan air bening tersebut sekenanya dan segera menoleh melihat sang pemilik suara tersebut.

“Ya! Kau baik-baik saja kan, Alice?” kata suara itu lagi.

“Aku baik-baik saja, Jess.” Ya dia sahabatku, Jessy. Lebih tepatnya sahabat kami –aku dan Marcus-. Dialah yang selalu menghiburku, berusaha sebisa mungkin melupakan ingatanku tentang Marcus.

“Tapi kau baru saja menangis bukan?” Tanyanya penuh kekhawatiran.

“Tenanglah, aku tidak apa-apa. Oh ya, bukankah kau menawariku tumpangan untuk pulang?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Yah.. kurasa lebih baik.

“Ya, pada awalnya. Tapi sayang sekali, sekarang aku harus pergi menyusul Aiden.” Sesalnya dengan cengiran di wajahnya. Sunnguh menyebalkan. Ku putar bola mataku dengan jengah kemudian kembali menatapnya.

“Yak! Jika kau tidak berniat memberiku tumpangan jangan menawariku, Jess! Aish, kau benar-benar menyebalkan” Murkaku padanya.

“Hahaha… maaf sayang, tapi aku tadi memang berniat untuk mengantarmu dan sedikit menghiburmu” katanya tanpa dosa sama sekali.

“Yayaya, aku terima alasanmu. Jadi sekarang pergilah sebelum aku mencegahmu pergi dan menyuruhmu mengantarku pulang.”

“Baiklah, aku pergi dulu baby. Hati-hati di jalan, eoh!” pamitnya sambil berlari. Cish, kebiasaan buruknya muncul kembali.

Kembali ku mendongak dan ternyata hujan telah pergi dari peraduannya. Kuputuskan untuk segera melangkah menyusuri jalanan. Aku terus berjalan namun entahlah apa yang membwaku sampai ke jalan ini, jalan dimana kami dulu sering berjalan dengan tangan saling menggenggam satu sama lain. Tuhan, kenapa aku terus saja mengingatnya? Tak bisakah aku melupakannya? Menghapus kenangan itu pula?

A day passes but sadness comes again
It’s so hard that i could die, my love

Flashback

Dia menggenggam jemariku dengan erat seakan enggan melepaskannya. Kami berjalan beriringan menyusuri jalan setapak di pinggiran Sungai Han.

“Hai, mau berhenti sebentar? Sepertinya kau terlihat lelah.” Tawarnya dengan nada yang sangat halus.

“Ehm, tidak masalah. Dan sepertinya aku memang lelah, bisakah kau membelikan aku minuman, Marc?” pintaku dengan nada manja dan tampang polosku yang kutunjukkan kepadanya.

Dia mencubit hidungku gemas dan berkata “Baiklah tuan putriku, tunggu disana jangan kemana-mana aku akan segera kembali. Mengerti?”

Aku mengangguk mengiyakan perintahnya. Dan dia segera melesat pergi. Dengan segera ku langkahkan kakiku menuju sebuah bangku taman yang berada di bawah pohon mapple tua yang ada disana, segera ku keluarkan novel yang selalu aku bawa di dalam tas jinjingku. Kegiatan yang selalu kuanggap menyenangkan ketika sedang menunggu ataupun saat waktuku benar-benar membosankan.

Tak lama kemudian, aku merasakan sekaleng soda dingin menempel di pipiku. Aku terperanjat kaget dan segera menoleh, dan ku temukan Marcus sudah berdiri di sampingku dengan kedua tangan menggenggam soda dingin yang salah satunya telah bersarang manis di pipiku.

“Kau mengagetkanku, Marc.” Kataku sambil menggembungkan pipi, tanda aku kesal kepadanya. Dia mengganggu kesenanganku dan juga membuat aku kaget. Dia benar-benar sangat menyebalkan jika sudah berbuat seperti itu.

“Maaf sayang, aku tidak bermaksud untuk mengagetkanmu.” Katanya dengan wajah tanpa dosanya dan senyum yang terukir di wajahnya. Inilah salah satu kelemahanku, aku tak dapat marah kepadanya hanya karna senyumannya itu. Wajah seperti bocah yang selalu meluluhkanku hanya dengan senyuman tulusnya maupun cengiran usilnya. Yah, walaupun terkadang dia sedikit menyebalkan.

“Baiklah aku terima permintaan maafmu. Tapi jangan kau ulangi lagi, Marc. Bagaimana jika aku memiliki riwayat penyakit jantung, dan ulahmu tadi menyebabkan aku mati terkena serangan jantung. Hum?” kataku tanpa mengalihkan padanganku darinya.

“Ck. Jika kau mati terkena serangan jantung karena aku itu bukan masalah bukan? Justru kau harus merasa bangga karena kau telah dibuat mati oleh seorang malaikat yang tampan sepertiku. Hahahaha…..” Katanya dengan menyerahkan soda tersebut dan menunjukkan senyum tiga jarinya tersebut. Dia benar-benar pria paling menyebalkan dengan tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi.

Kuputar bola mataku jengah. Yah, masalah klasik sifat cassanova seorang Marcus muncul kembali. ”Yak, kau terlalu percaya diri tuan muda.” Kataku sambil mengambil sekaleng soda yang disodorkannya kepadaku. Kemudian aku mencubit pipinya yang semakin hari semakin terlihat tembam tersebut. Entahlah, dia memakan apa sehingga menyebabkan pipinya semakin tembam.

“Yak, jangan kau mencubitiku terus nona. Sakit. Kau tau itu kan? Huh!” Katanya sambil mengelus pipinya yang memerah akibat ulahku.

“Kau harus menerima hukumanmu nona. Rasakan ini!” Tanpa aku duga dia telah menggelitikku sehingga aku harus menahan tawa akibat ulahnya tersebut.

“Hahaha…hahaha… baiklah Marc, aku menyerah. Kumohon, hahaha… hentikan ini. Ini sangat geli.” Kataku dengan tawa yang sudah meledak. Tak lama kemudian aku tak merasakan geli itu lagi melainkan pelukan yang hangat. Pelukan yang sangat aku sukai begitupun sang pemeluk. Pelukan yang menghangatkan dan juga menenangkan. Dapat kucium aroma yang menguar dari dirinya, aroma maskulin yang begitu memabukkan. Aroma yang selalu kurindukan. Dan berharap aroma inilah yang dapat aku rasakan kelak, saat aku terbangun dan membuka mataku.

“Aku mencintaimu, Alice. Sangat sangat mencintaimu. Dan berharap kau pun juga mencintaiku sebesar rasa cintaku ini kepadamu.” Katanya setengah berbisik di telingaku dan kemudian aku mersakan sesuatu yang basah menyentuh keningku. Dia mencium keningku, ciuman yang hangat dan sangat menenangkan. Ciuman yang sarat akan ketulusan darinya.

“Aku juga mencintaimu, Marc. Dan rasaku ini bahkan mungkin melebihi rasa cintamu kepadaku.” Kataku sambil menggodanya dan dihadiahi sebuah cubitan darinya. Aku senang bisa menggodanya seperti ini. Ku eratkan kembali pelukan ini, dengan kepala bersandar didadanya. Mata kami saling terpejam menikmati semilir angin yang berhembus. Dan kami pun larut dalam suasana. Suasana dimana kami saling memiliki satu sama lain, dan berharap akan merasakan suasana seperti ini selamanya. Hanya aku dan dia.

Flashback end

My tears, my sad memories, my love whom i missed
I always draw you out from under the same sky
Yes, I live in pain like this

Tiba-tiba kenangan itu kembali berkelebat di otakku. Kenangan akan seorang yang amat aku rindukan keberadaannya, Marcus. Aku tanpa sadar melangkah ke bangku tersebut, bangku yang menjadi kenanganku bersamanya. Aku mengerjap kaget, tubuhku kaku seketika dan aku bisa merasakan debaran jantungku yang bertalu dengan cepat.

Benarkah dia Marcusku? Bernahkah itu dia? Jika ini hanya mimpi aku mohon jangan bangunkan aku Tuhan. Biarkan aku terjebak dalam mimpi ini. Kulangkahkan kakiku semakin mendekat dan benar-benar terkejut dengan ini. Benar, memang benar dia Marcus. Orang yang selama ini telah mengalih fungsikan otakku hanya untuk memikirkannya. Memporak-porandakan duniaku.

Dia menoleh dan seakan terkejut dengan keberadaanku. Badannya menegang hebat, namun dia dapat mengendalikan itu semua. Dengan cepat dia telah merubah air mukanya menjadi datar kembali. Ada apa denganmu, Marcus? Apa yang terjadi sebenarnya?

“Hai, bolehkah aku duduk disini?” kataku padanya. Dia hanya mengangguk tanda mengiyakan, tanpa menoleh barang sedikitpun kepadaku. Ku hela nafasku berusaha menahan buliran bening ini agar tidak jatuh di depan pria ini. Hening. Yah, beginilah keadaan kami sekarang, keheningan yang menyelimuti kami berdua. Hanya terdengar helaan nafasnya disini.
“Bagaimana kabarmu?” kata kami bersamaan. Kekehan kecil tercipta diantara kami. Suasana yang sudah lama kurindukan. Suasana yang tak akan tercipta lagi kedepannya.

“Kau duluan.” Katanya sambil menatapku. Aku mohon Marcus, jangan menatapku seperti itu. Jangan membuatku semakin berat untuk melupakanmu. Jangan membuatku semakin sulit untuk melepasmu. Membuang semua kenangan ini.
“Tidak. Kau duluan, Marc.” kataku sambil mengalihkan pandangan darinya. Tidak kuat memandang matanya lama.
Mata almond yang dulu sering menatapku dengan sayang. Menghantarkan hangatnya kasih sayang dari sang pemilik. Namun, tidak untuk kedepannya. Mata itu tidak akan lagi digunakan untuk menatapku, melainkan menatap orang lain. Menatap orang lain tersebut dengan sayang, seperti aku dulu. Aku tersenyum miris mengingat itu semua. Air mata ini terus mendesak untuk di keluarkan, namun aku sebisa mungkin menahannya. Aku tidak ingin dia mengetahui bahwa aku masih sangat mencintainya. Bahwa aku sangat kehilangan dirinya.

“Seperti sekarang yang kau lihat, aku baik-baik saja, Alice. Tapi itu semua hanya yang dapat kau lihat dengan matamu. Sebenarnya aku sedang tidak baik-baik saja tanpamu. Kau tau itukan? Tidak baik-baik saja tanpamu.” Katanya dengan suara yang sarat akan kelelahan dan keputusasaan. Aku menolehkan kepalaku untuk memandangnya. Dan betapa mencelosnya aku mendengarnya berkata seperti itu.

Dia masih sama Tuhan, dia masih Marcusku yang dulu. Dia sama sekali tidak merubah segalanya tentangku. Dia menatap lekat-lekat kedua bola mataku, memenjarakannya dengan tatapannya yang begitu intens. Seakan-akan dia sedang merekam wajahku di memorinya dengan baik-baik.

“Aku baik-baik saja, sampai aku bertemu denganmu sekarang, Marc. Maaf aku lancang telah mengatakan ini, bahwa aku merindukanmu Marc. Aku masih mebutuhkanmu sama seperti dulu.” Tanpa kuperintahkan mulutku berucap. Bagus, akhirnya dia tau yang sebenarnya. Dan pertahananku runtuh seketika. Buliran bening yang sejak tadi aku tahan mati-matian akhirnya menyeruak keluar dengan derasnya.

“Jangan mempersulitku, Alice. Aku tau kita masih saling membutuhkan satu sama lain, tapi maaf aku tidak bisa. Aku tidak bisa menepati janji yang dulu pernah terucap. Aku memang jahat Alice, aku pria terjahat yang tega menyakiti hati gadisnya.” Ujarnya dengan suara yang lemah.

“Lalu untuk apa kau mengatakan bahwa kau tidak baik-baik saja tanpaku? Kau juga mempersulitku, Marc. Bukan hanya kau saja yang dalam posisi sulit ini. Aku pun juga begitu. Jangan kau egois. Hanya memikirkan keadaanmu sendiri, Marc! Aku disini juga tersakiti!” Tangisku meledak, airmataku semakin deras mengalir. Aku rapuh. Aku rapuh tanpanya.

Dia menarikku ke dalam pelukannya, ditenggelamkannya kepalaku di dada bidangnya itu. Dia mengelus puncak kepala belakangku dengan sayang. Aku merindukan pelukan ini, pelukan yang menenangkan, pelukan yang membuatku seolah terlindungi, pelukan hangat penuh kasih sayang dari seorang Marcus. Malaikatku. Pelindungku. Tempatku bersandar saat aku rapuh. Tempatku menumpahkan segalanya, segala rasa lelah dan bahagia. Namun itu dulu, bukan sekarang. Semuanya telah berubah, semuanya telah hilang. Sandaranku. Pelindungku. Semua bukan milikku lagi.

“Tenanglah. Aku memang egois Alice, tapi aku mohon jangan menangis lagi karaneku. Aku tak pantas untuk kau tangisi, aku telah menorehkan luka yang teramat dalam untukmu. Jadi, aku mohon berhentilah menangisiku mulai sekarang. Aku hanya minta kau tersenyum untukku, dengan begitu aku akan merasa tenang Alice.” Katanya sambil terus mengusap kepalaku. Aku memeluknya lebih erat lagi, berharap pelukan ini akan selalu aku rasakan nantinya. Ku seruakkan kepalaku lebih dalam ke dadanya. Hening kembali menyelimuti kami, yang terdengar hanyalah semilir angin dan suara tangisku yang belum mereda. Kami bungkam, menenggelamkan kami dalam pikiran kami masing-masing.

Setelah cukup lama aku menangis dipelukannya, aku menjadi sedikit lebih tenang. Ku renggangkan pelukan kami. Dan ku tatap matanya. Mata almond yang selama ini memancarkan cinta, tetaplah sama sampai saat ini. Setelah aku menormalkan suaraku, ku hela nafas panjang. Berancang-ancang akan mengucapkan sesuatu kepadanya.

“Baiklah Marc, jika itu yang kau mau. Mulai sekarang aku akan tersenyum untukmu, aku tak akan menangis lagi untukmu dengan begitu kau senang bukan?” kataku. Dia mengangguk perlahan dengan sedikit senyum yang dipaksakan.

“Mulai sekarang, aku akan melupakanmu. Tapi hanya sekedar melupakan bayanganmu, bukan untuk menghapus semua tentangmu di dalam hatiku. Karna sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa melakukan itu.” Ucapku menambahkan. Ku kembangkan senyumku walaupun senyum kesakitan yang sekarang tengah terukir manis di wajahku. Senyum yang sarat akan kepedihan.

“Baiklah, dengan begitu aku tidak perlu khawatir lagi dengamu sayang. Kau tau selama ini aku selalu menghubungi Jessy untuk mengetahui semua tentang keadaanmu? Aku khawatir ketika Jessy selalu mengatakan jika kau sering menangis karenaku.” Ucapnya dengan tangannya menarikku kembali kepelukannya.

Aku membelalak kaget. Apakah benar dia melakukan semua itu? Tapi mengapa Jessy tak pernah bercerita kepadaku?
“Baiklah sekarang hapus airmatamu itu, kau terlihat begitu menggelikan dengan airmata itu. Kau terlihat semakin jelek ketika kau menangis. Kau tau itu bukan?” Ucapnya sambil mengahapus airmataku yang mengalir di pipi.

“Tapi berjanjilah kepadaku, Marc. Bahwa kau juga akan hidup baik-baik saja dan jangan mencoba menghapusku dari hatimu.” Pintaku dengan nada manja kepadanya.

“Baiklah, aku berjanji padamu Alice. I promise.” Dia mengulurkan kelingkingnya kepadaku dan aku pun menyambutnya.
“Bolehkah aku meminta satu hal padamu untuk terakhir kalinya?” Aku mendongak, alisku mengernyit menandakan bahwa aku penasaran dengan permintaanya.

“Apa?”

Chup..

Dia mencium keningku dengan penuh sayang. Tubuhku kaku, jantungku berdebar dengan cepatnya. Terkejut akan tindakannya. Dan setelah aku mampu mengendalikan reaksi tubuhku, akupun memejamkan mataku menikmati kebahagian yang saat ini mengalir. Walaupun aku tahu kebahagiaan ini hanya kebahagiaan sesaat yang mungkin aku tak akan mendapatkannya lagi.

Aku mencintaimu Marcus. Walaupun kita tidak dapat bersatu dan takdir memang tidak mengizinkan kita bersatu, namun semua tentangmu akan tetap berada pada tempatnya. Tempat yang dulu pernah menjadi milikmu, sekarang dan selamanya pun akan tetap sama. Hatiku. Tempat yang tidak akan pernah digantikan oleh orang lain. Karena aku tidak akan pernah menggantikannya. Namun hanya akan menempatkan orang tersebut di bagian lain di dalam hatiku tanpa menghapuskanmu.

Love is crying and being scattered in the wind
It becomes the cloud and follows that path
I look at you from far away, you who asked not to be forgotten

~END~

I Lose My Love

Author             : Widya Rahma Tifani

Cast                 : Cho Kyuhyun, Han Ji Yoon

Genre              : Sad

Rating             : PG-16

Leght              : Drabble

 

Andaikan mulut ini tak pernah berucap

Andaikan mata ini tak pernah melihatmu

Andaikan hati ini tak memilihmu

Mungkin aku tak akan sesakit sekarang ini

 

Dia pergi, pergi dari sisiku. Menghilang dari jarak pandangku. Menjauh dari jangkauanku. Tubuh ini seakan tak bernyawa, jiwa di dalamnya seakan telah mengilang dari raganya. Jiwa yang selama ini bersemayam di dalamnya telah dibawa pergi oleh prianya, orang yang telah berjanji akan menjaga hati dan jiwanya. Semuanya janji yang telah terucap seakan hanyalah sebuah bualan belaka. Dia mengingkarinya. Dia menghianati kesetiaan ini. Cinta ini tak dapat mempertahankannya. Tangan ini tak dapat terus menggegamnya.

“Maafkan aku sayang, tapi aku benar-benar tidak bisa berada di sisimu lagi. Dia telah kembali, separuh jiwaku kembali.”

Aku memejamkan mataku, menajamkan kembali pendengaranku. Kepala ini menggeleng pelan seakan tak percaya, air mata ini telah menggenang mengalir sederas-derasnya. Priaku Cho Kyuhyun, dia telah mengatakannya. Keadaan dimana selama ini aku takutkan, keadaan dimana dia memilih pergi dari sisiku.

“Apakah kau benar-benar akan pergi? Tak bisakah kau bertahan untukku? Tak bisakah kita mempertahankan cinta ini?” aku berucap pelan.

“Maaf aku tidak bisa, aku…aku masih mencintainya.” Ucapnya dengan suara keputus asaanya.

“Tapi aku mencintaimu, Kyu. Dan aku tau kau juga mencintaiku, bertahanlah. Bertahanlah demi cinta ini. Aku mohon.” Suaru semakin parau, airmataku terus mendesak keluar dengan deras. Aku tak tau semuanya akan seperti ini. Gadis itu dulu memutuskan meninggalkannya, mencampakkannya dengan sejuta kesakitan yang ditinggalkannya. Dan sekarang, dia kembali entah alasan apa yang dia gunakan hingga priaku mau kembali kepadanya.

“Biarkan aku pergi, Yoon. Dia membutuhkanku, dia sakit.”

“Tapi aku disini juga membutuhkanmu!” bentak ku dan tangisku semakin kencang.

“Dia lebih membutuhkanku daripada dirimu, Yoon. Dia benar-benar rapuh sekarang.”

“Baiklah jika itu maumu. Aku melepasmu. Tapi ingat jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku lagi. Cukup untuk detik ini saja aku melihatmu.” Ucapku dengan menyeka air mataku. Ku lihat dia menegakkan kepalanya kaget mendengar ucapanku.

“Me…mengapa aku. Baiklah aku mengerti, maaf telah menyakitimu. Aku harap setelah ini kau dapat hidup bahagia, tanpa ada air mata yang kau teteskan untuk pria tak bertanggung jawab sepertiku. Semoga kau hidup lebih baik setelah ini. Aku pergi.” Dia berucap dengan lantang, namun aku mendengar suaranya bergetar. Mata onyxnya berkaca-kaca menahan air mata. Mata itu menyiratkan kesakitan dan juga  penyesalan.

“Pergilah!! Dan selamat tinggal.”

Dia benar-benar pergi. Pria itu benar-benar menghilang dari pandanganku. Menjauh tanpa aku bisa menggapainya kembali. Menenggelamkanku pada sisi terkelam dalam hidup.

 

Cintaku yang menyakitiku

Perasaanku yang menyiksaku

Penghianatanmu mengnenggelamkanku dalam lubang tergelap dalam hidup

 

 

END